Nilai-Nilai Pendidikan Karakter pada Pendidikan Dasar dan Menengah

 Pendidikan Karakter 

Karakteristik berasal dari kata "characteristic" yang berarti sifat yang khas. Atau bisa 

diambil pengertian bahwa karakteristik adalah suatu sifat khas yang membedakan dengan 

yang lain.Karakter adalah wujud pemahaman dan pengetahuan seseorang tentang nilai-nilai 

mulia dalam kehidupan yang bersumber dari tatanan budaya, agama dan kebangsaan 

serta diwujudkan dalam sikap, perilaku dan kepribadian sehari-hari hingga mampu 

membedakan satu dengan lainnya. Dengan demikian maka karakter pada hakekatnya bukan 

hanya harus dipahami dan diketahui ataupun hanya diajarkan tetapi harus diteladani. Dimana 

yang selanjutnya diharapkan bahwa karakter individu tersebut akan membangun karakter -karakter daerah dan bangsa sesuai dengan harapan dan cita-cita luhur dalam tujuan 

pendidikan nasional. Pendapat lain dari pengertian karakter, seperti yang disampaikan 

Gunarto bahwa : Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang 

berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan 

kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan 

berdasarkan norma-norma agama, budaya dan nilai kebangsaan yang diaktualisasikan dalam 

kehidupan sehari-sehari menjadi suatu pembiasaan yang melekat. 

Menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, dinyatakan 

bahwa : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar 

dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya 

untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, 

akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek 

pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action), tanpa ketiga aspek ini, 

maka pendidikan karakter tidak akan efektif dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara 

sistematis dan berkelanjutan serta mampu membedakan satu dengan lainnya. Dengan 

pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. 

Hal ini sesuai dengan kebrhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80% 

dipengaruhi oleh kecerdasan emosi (EQ), dan hanya 20% ditentukan oleh kecerdasan otak 

Slanjutnya berdasarkan kepada hasil pembahasan 

dengan para pendidik dan alasan-alasan praktis dalam penggunaannya di lapangan, 

pendekatan-pendekatan tersebut telah diringkas menjadi lima jenis pendekatan berikut : 

Lima pendekatan tersebut adalah : 

1. Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) 

2. Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach) 

3. Pendekatan analisis nilai (values analysis approach) 

4. Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach); dan 

5. Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach).


Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan 

proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

6.Memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak 

mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 

Karakter adalah sifat khas, kualitas dan kekuatan moral pada seseorang atau 

kelompok. Puskur (Pusat Kurikulum) memberikan suatu definisi atau pengertian 

karakter sebagai watak tabiat, akhlak, ataukepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil 

internalisasi nilai-nilai kebajikan yang dapat menjadi suatu keyakinan 

dandigunakannya sebagai landasan cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. 

Pendidikan karakter adalah usaha sadar dan terencanadalam menanamkan nilai-nilai 

sehingga terinternalisasi dalam diri peserta didik yang mendorong dan mewujud dalam sikap 

dan perilaku yang baik.Pendidikan karakter bukan terletak pada materi pembelajaran 

melainkan pada aktivitas yang melekat, mengiringi, dan menyertainya (suasana yang 

mewarnai, tercermin dan melingkupi proses pembelajaran pembiasaan sikap dan perilaku 

yang baik) Pendidikan karakter tidak berbasis pada materi, tetapi pada kegiatan. 

Proses terbentuknya pendidikan karakter

yaitu : 

1. Melalui pendidikan, pengalaman, cobaan hidup, pengorbanan dan pengaruh 

lingkungan,kemudian terinternalisasi nilai-nilai sehingga menjadi nilai intrinsik yang 

melandasi sikap dan perilaku. 

2. Sikap dan perilaku tersebut dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan. 

3. Kebiasaan tersebut dijaga dan dipelihara maka jadilah karakter 

Jadi bahwa keberhasilan dalam proses pembentukan karakter lulusan suatu satuan 

pendidikan, akan ditentukan bukan oleh kekuatan proses pembelajaran, tetapi akan 

ditentukan oleh kekuatan manajemennya, yang mengandung pengertian bahwa mutu 

karakter lulusan memiliki ketergantungan kuat terhadap kualitas manajemen sekolahnya. 

Hal ini disebabkan karena proses pembentukan karakter harus terintegrasi kedalam berbagai 

bentuk kegiatan sekolah. 

B. Manajemen Pendidikan Karakter 

Manajemen pendidikan karakter di lingkungan sekolah merupakan program yang 

berkesinambungan dan terintegrasi kedalam keseluruhan sistem pengelolaan pendidikan. 

Hal ini didasarkan kepada : tujuan pendidikan nasional, yakni membentuk manusia 

seutuhnya. Penulisan ini akan mencoba membahas permasalahan manajemen sekolah 

berbasis karakter, yakni sistem pengelolaan sekolah yang mengintegrasikan nilai-nilai 

karakter kepada keseluruhan tatanan kehidupan dan pengelolaan pendidikan, dengan isu 

sentral bahwa implementasi manajemen sekolah berbasis karakter membutuhkan strategi 

implementasi, kesiapan SDM, penentuan indikator keberhasilan, desain implementasi, 

strategi evaluasi, analisis hambatan yang dihadapi dan analisis terhadap kebutuhan kebijakan 

implementasi manajemen sekolah berbasis karakter. 

Manajemen sekolah Berbasis Karakter (MSBK) dalam kajian penulisan ini 

hakekatnya, sebuah proses pengelolaan berbagai kegiatan pengelolaan pendidikan di 

lingkungan sekolah yang disertai dengan komitmen tinggi pada setiap pelaku dan perilaku 

pengelola dengan menanamkan nilai-nilai karakter mulia sehingga secara langsung 

mendukung keberhasilan proses pendidikan karakter dan pembelajaran, sehingga 

menghasilkan produktivitas mutu lulusan yang berkarakter mulia sesuai dengan tuntutan 

tujuan pendidikan nasional. Komponen sasaran dalam sistem manajemen sekolah yang tidak 

mengindahkan nilai-nilai karakter atau menunjang keberhasilan pembentukan karakter

Komentar